Aku sudah melewati satu persimpangan.
Seperti bermain game dan menaiki anak tangga.
Aku berhasil menjadikan diriku punya nyawa banyak.
Semakin banyak. Semakin banyak.
Kini sudah cukup banyak untuk menjejakkan ke level selanjutnya.
Sudah cukup untuk memasuki pintu baru.
Cukup untuk menjumpai persimpangan lagi.
Persimpangan ya atau tidak.
Sudah sejauh ini berjalan, bertahan, berusaha.
Saat berjalan untuk sampai ke titik ini, aku sering melihat kebelakang.
Sudah seberapa jauh aku berjalan.
Sudah berapa banyak pundi-pundi perasaan yang aku tampung.
Pada titik ini aku diuji. Apakah aku siap untuk pergi atau menunggu.
Sebelum menemui pintu baru yang aku ingin masuki,
Level terakhir yang ingin ku capai.
Anak tangga penentuan.
Persimpangan dimana aku yang menentukan jawabanya.
Aku harus lulus babak ini dulu.
Keraguan pun mulai timbul.
Sudah sangat normal sebuah keraguan ini timbul.
Sudah sangat familiar ketika menjajaki jalan yang sama.
Kadang moment ini terasa sangat traumatik.
Ketika aku yang sudah menunggu,
Nihil hasilnya.
Sudah sejauh ini. Sudah kuketuk pintu.
Tak ada yang menjawab.
Tak ada yang membukakan.
Tak ada orangnya.
Sia-sia.
Keringat dingin mengucur deras.
Rasanya sudah seharusnya aku beristirahat sejenak.
Aksi memori yang suram,
Menimbulkan reaksi detakan jantung yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan.
Berapa waktu yang tersisa?
Aku takut untuk melangkah lebih jauh.
Bisakah kini aku yang dihampiri?
Bisakah setengah jalan lagi kamu yang menelusuri?
Atau setidaknya kita sama-sama saling mencari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar