3.9.12

Candu

Terlalu mudahkah untuk ditaklukan?
Menjadi satu dengan aliran darah yang masuk ke otak
laksana nutrisi yang menghidupi.
Seakan candu yang kian merengkuh.

Ku katakan sekali ini saja.
Meskipun Tuhan memberiku kemampuan.
Melihat huruf demi huruf yang terangkai.
Seakan melihat keluar saat matahari bersinar dengan cerahnya
setiap gesture dengan mudah ku baca.
Karena mereka bukan orang yang istimewa buatku.
Mereka biasa saja untukku.

Tapi semuanya berubah ketika,
aku yang merasa tertarik.
Seakan jendela itu buram.
Gerhana matahari terjadi, kusam, gelap, tak terlihat.
Ingin kubaca kata perkata yang ada di dalam sana.
Tapi tak bisa.
Makanya aku takut sendiri kalau ku bilang "Aku tertarik padamu".
Sebelum kau bilang hal yang sama terlebih dahulu.
Belum siap rasanya memecahkan gelas anggur yang masih dalam perbaikan.

Ya, pengecut kan?
Itu memang aku.
Jadi, mudah-mudahan kau mengerti sebelum gelas itu pecah lagi.
Lebih baik pergi tanpa meninggalkan bekas apapun
atau tetaplah di sini dengan rasa yang sama.
Aku tidak butuh daerah abu-abu.
Aku hanya ingin hitam atau putih.
Warna vivid yang terang dan jelas.

Kurasa, aku tahu sedikit yang ada di benakmu.
Kau masih berharap masa lalu datang.
Berharap masa lalu itu masih ada di sini bersama mu.
Aku juga tidak bisa menekan hal itu.
Manusiawi.
Di dalam sini juga kadang terasa hal yang sama.
Kadang aku ingin mengubur masa lalu dalam-dalam.
Kadang aku sendiri yang ingin ia bangkit lagi menemaniku.
Karena aku terlalu takut untuk berjudi dengan takdir.

Aku sudah cukup senang sebenarnya.
Kita bisa bertemu walau hanya dalam satu nama.
Kita bisa bercengkerama meski hanya dalam hitungan minggu.

Kuakui, aku kecanduan.
Kecanduan melihatmu dekat, senyumu, tinggimu, rambutmu, urat-urat tanganmu, warnamu, cara jalanmu.
Kecanduan mendengar suaramu, tertawamu, nyanyianmu, tangisanmu, godaanmu, ceplas-ceplosmu.
Kecanduan akan gesturmu, kepolosanmu, jalan fikiranmu.

Apa yang sedang dilakukan di sana?
Bisakah kau tau aku sedang menceritakanmu di dalam sini?

Kini rasanya seperti sakau.
Karena canduku tak lagi kulihat, kurasa, kuhirup, kudengar.
Seakan kini semua inderaku mencari yang hilang.
Kamu.

- Cerpen "Sprout"- Jakarta,  Senin 3|9|12 , 9:46 -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar